Pembuatan Media Tanam Organik

Pembuatan Media Tanam Organik

pengomposan bahan organikBerikut adalah cara-cara pembuatan media tanam organik (polybag atau pot). Untuk membuat media tanam yang baik diperlukan unsur tanah, bahan pengikat atau penyimpan air dan penyedia unsur hara. Bahan baku yang akan digunakan adalah tanah top soil, kompos dan arang sekam.

Media Tanam Organik adalah media tanam yang terbuat dari komponen organisme hidup misalnya bagian dari tanaman seperti daun, batang, bunga, buah, kulit kayu.bagian dari limbah hewan misalnya kotoran hewan, air kencing. Penggunaan bahan organik sebagai media tanam jauh lebih unggul dibandingkan dengan bahan anorganik.
Hal itu dikarenakan bahan organik sudah mampu menyediakan unsur-unsur hara bagi tanaman. Selain itu, bahan organik juga memiliki pori-pori makro dan mikro yang hampir seimbang sehingga sirkulasi udara yang dihasilkan cukup baik serta memiliki daya serap air yang tinggi.media awal sangatlah penting untuk pertumbuhan tanaman agar dapat berkembang dengan baik untuk mendapatkan hasil yang diinginkan.
Pembuatan Media Tanam OrganikBerikut langkah-langkahnya:
Siapkan tanah yang terlihat gembur dan subur. Tanah yang diambil lebih baik dipilaih pada bagian paling atas. Kemudian tanah diayak hingga menjadi butiran-butiran halus dan diusahakan tanah dalam keadaan kering sehingga tidak menggumpal karena tanah yang menggumpal akan menyebabkan bahan-bahan tidak tercampur dengan merata.
Siapkan kompos yang telah matang. Kompos yang dipakai bisa dari kompos biasa, bokashi atau kompos takakura. Selanjutnya kompos diayak sehingga menjadi butiran-butiran halus.
Siapkan arang sekam. Arang sekam yang digunakan haruslah arng yang sudah jadi, sehingga dapat tercampur secara merata ketika dicampur dengan bahan lainnya.
Cara Pembuatan:
Campurkan tanah, kompos, dan arang sekam dalam sebuah wadah. Komposisi campuran yang dibuat adalah 2 bagian tanah, 1 bagian kompos dan 1 bagian arang sekam (2:1:1). Semua campuran tersebut dicampurkan dan diaduk hingga merata. Siapkan pot atau polybag, lalu masukkan campuran tersebut kedalamnya. Media tanam sudah siap digunakan.
Ketiga bahan baku tersebut bisa juga dicampur dengan komposisi 1:1:1 atau 2:1:1, tergantung dari jenis tanaman dan ketersediaan sumber dayanya. Mengenai hasil, beberapa penelitian menunjukkan hasil yang berbeda-beda, sehingga lebih baik kita mencobanya secara try and error.
Media tanam sangat berguna apabila kita ingin menanam sayuran dalam polybag atau pot. Metode seperti ini cocok diterapkan di lahan yang terbatas atau lahan sempit.

Kompos sebagai Media Tanam yang Baik

Kompos sebagai media tanam yang Baik – Media tanam merupakan faktor penting yang sangat menentukan dalam kegiatan bercocok tanam. Media tanam akan menentukan baik atau tidaknya pertumbuhan tanaman yang pada akhirnya mempengaruhi hasil produksi.

Jenis-jenis media tanam sangat banyak dan beragam seiring dengan berkembangnya teknologi sehingga berbagai metode bercocok tanam mulai bermunculan.

Kompos sebagai media tanam yang Baik

Kebutuhan masing-masing tanaman akan sifat dan karakteristik media tanam tidaklah sama. Tanaman buah membutuhkan karakteristik media tanam yang berbeda dengan tanaman sayuran, karena tanaman buah memerlukan media tanam yang solid agar bisa menopang pertumbuhan tanaman yang relatif lebih besar, sedangkan jenis tanaman sayuran daun lebih memerlukan media tanam yang gembur dan mudah ditembus akar.

Dari hal ini saja sudah jelas sekali bahwa kebutuhan tanaman akan karakteristik dan sifat media yang dibutuhkan berbeda-beda.

Secara umum, kompos sebagai media tanam memiliki fungsi untuk menopang tanaman, memberikan nutrisi dan menyediakan tempat bagi akar tanaman untuk tumbuh dan berkembang. Lewat media tanam tumbuh-tumbuhan mendapatkan sebagian besar nutrisinya. Untuk budidaya tanaman dalam wadah pot atau polybag, media tanam dibuat sebagai pengganti tanah.

Oleh karena itu, media yang digunakan harus bisa menggantikan fungsi tanah bagi tanaman. Media tanam yang baik harus memiliki sifat-sifat fisik, kimia dan biologi yang sesuai dengan kebutuhan tanaman.

Kompos sebagai Media tanam yang baik harus memiliki syarat-syarat sebagai berikut:
Mampu menyediakan ruang tumbuh bagi akar tanaman, sekaligus juga sanggup menopang tanaman. Artinya, media tanam harus gembur sehingga akar tanaman bisa tumbuh baik dan sempurna, akan tetapi masih cukup solid memegang akar dan menopang batang agar tidak roboh. Apabila media terlalu gembur, pertumbuhan akar akan leluasa namun tanaman akan terlalu mudah tercerabut. Sebaliknya apabila terlalu padat, akar akan kesulitan untuk tumbuh.

Memiliki porositas yang baik, artinya bisa menyimpan air sekaligus juga mempunyai drainase (kemampuan mengalirkan air) dan aerasi (kemampuan mengalirkan oksigen) yang baik. Media tanam harus bisa mempertahankan kelembaban tanah namun harus bisa membuang kelebihan air. Media tanam yang porous mempunyai rongga kosong antar materialnya.

Media tersebut tersebut bisa ditembus air, sehingga air tidak tergenang dalam pot atau polybag. Namun disisi lain ronga-rongga tersebut harus bisa menyerap air (higroskopis) untuk disimpan sebagai cadangan dan mempertahankan kelembaban.

Menyediakan unsur hara yang cukup baik makro maupun mikro. Unsur hara sangat penting bagi pertumbuhan tanaman. Unsur hara ini bisa disediakan dari pupuk atau aktivitas mikroorganisme yang terdapat dalam media tanam. Media yang baik tidak mengandung bibit penyakit, media tanam harus bersih dari hama dan penyakit.

Hama dan penyakit yang terkandung dalam media tanam dapat menyerang tanaman dan menyebabkan kematian pada tanaman. Media tanam tidak harus steril karena banyak mikrooganisme tanah yang sebenarnya sangat bermanfaat bagi tanaman, namun harus higienis dari bibit penyakit.

Salah satu media yang baik untuk digunakan sebagai bahan dasar media adalah kompos sebagai media tanam. Kompos sebagai media tanam yang baik karena selain dapat menggantikan fungsi tanam, juga dapat dijadikan sebagai sumber nutrisi dan sebagai tempat bertopangnya akar tanaman sehingga dapat tumbuh subur. Selain itu kompos juga menyediakan unsur hara yang cukup yang keberadaannya sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman.

Kompos juga memiliki porositas yang baik, dalam artian dapat mengikat dan menyimpan air dan apabila kandungan air terlalu banyak maka air tersebut akan terlewatkan, sehingga kebutuhan tanaman akan air dapat tetap terjaga. namun lebih baiknya pembuatan media tidak hanya penggunaan komps saja, namun juga perlu adanya tambahan tanah sebagai penguat dan penopang akar tanaman.

Jenis Kompos Sebagai Media Tanam Yang Baik

Di Indonesia, terdapat berbagai jenis kompos yang dapat digunakan sebagai pupuk organik untuk meningkatkan kesuburan tanah dan produktivitas pertanian. Berikut adalah beberapa jenis kompos yang umum di Indonesia:

  1. Kompos Sampah Organik: Kompos ini dihasilkan dari pengomposan bahan-bahan organik dari sampah rumah tangga, seperti sisa makanan, kulit buah, sayuran, dan daun. Proses pengomposan mengubah bahan organik ini menjadi humus yang kaya akan nutrisi. Kompos sampah organik dapat dihasilkan melalui metode pengomposan sederhana di rumah atau melalui pengomposan skala besar di fasilitas daur ulang.
  2. Kompos Jerami: Kompos jerami dibuat dari pengomposan jerami atau sisa tanaman hasil panen. Jerami merupakan bahan organik yang kaya akan karbon dan mengandung sedikit nutrisi. Dengan pengomposan yang tepat, jerami dapat diubah menjadi kompos yang lebih kaya nutrisi dan bermanfaat untuk meningkatkan kesuburan tanah.
  3. Kompos Kotoran Ternak: Kompos ini berasal dari pengomposan kotoran ternak, seperti kotoran sapi, kambing, ayam, dan lain-lain. Kotoran ternak mengandung nutrisi penting seperti nitrogen, fosfor, dan kalium. Proses pengomposan membantu mengurai kotoran ternak menjadi bentuk yang lebih stabil dan bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman.
  4. Kompos Sisa Pertanian: Kompos dari sisa pertanian termasuk sisa-sisa tanaman yang tidak digunakan setelah panen, seperti tangkai, batang, dan daun yang tidak layu. Pengomposan sisa pertanian ini membantu mengembalikan nutrisi ke dalam tanah dan mengurangi pembakaran sampah pertanian yang dapat menyebabkan pencemaran udara.
  5. Kompos Limbah Organik Industri: Beberapa industri, seperti industri makanan dan minuman, menghasilkan limbah organik seperti ampas atau sisa-sisa produksi. Limbah ini dapat diolah menjadi kompos melalui pengomposan yang tepat. Pengolahan limbah organik industri menjadi kompos membantu mengurangi dampak negatif pada lingkungan dan dapat digunakan kembali sebagai pupuk organik.
  6. Kompos Rumput Laut: Di daerah pesisir, kompos juga bisa dihasilkan dari rumput laut. Rumput laut mengandung berbagai nutrisi dan mikroorganisme yang bermanfaat bagi tanah. Pengomposan rumput laut dapat membantu meningkatkan kesuburan tanah di daerah pesisir yang sering mengalami kekurangan unsur hara.
  7. Kompos Bokashi: Bokashi adalah metode pengomposan yang menggunakan mikroorganisme pengurai yang telah diaktivasi. Bahan organik, seperti sisa makanan, dicampur dengan mikroorganisme bokashi dan fermentasi terjadi dalam wadah tertutup. Kompos bokashi sangat baik untuk pemupukan dan juga mengurangi bau busuk selama proses pengomposan.

Penggunaan kompos sebagai pupuk organik memiliki berbagai manfaat, termasuk meningkatkan kesuburan tanah, meningkatkan kapasitas menahan air, meningkatkan pertumbuhan akar tanaman, dan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia berbahaya. Penerapan pengomposan juga mendukung praktik pertanian berkelanjutan dan membantu mengurangi limbah organik yang berakhir di tempat pembuangan sampah. Dalam menghasilkan kompos, penting untuk memperhatikan proses pengomposan yang benar, seperti memperhatikan rasio karbon dan nitrogen serta menjaga kelembaban dan sirkulasi udara agar penguraian bahan organik berjalan dengan efisien.

Pengolahan Kompos

Pengolahan kompos yang baik memerlukan perhatian pada beberapa faktor penting untuk memastikan proses pengomposan berjalan dengan efisien dan menghasilkan kompos berkualitas tinggi. Berikut adalah langkah-langkah cara pengolahan kompos yang baik:

  1. Pemilihan Bahan Organik yang Tepat: Pilih bahan organik yang sesuai untuk proses pengomposan. Bahan-bahan seperti sisa makanan, jerami, daun, rumput, kotoran ternak, dan limbah pertanian merupakan bahan-bahan yang umum digunakan. Pastikan bahan organik yang dipilih bersih dari bahan-bahan non-organik seperti plastik atau logam.
  2. Penggilingan atau Pencacahan (Opsional): Untuk mempercepat proses pengomposan dan meningkatkan permukaan kontak, bahan organik besar bisa digiling atau dicacah menjadi ukuran yang lebih kecil.
  3. Pemilihan Tempat Pengomposan: Pilih lokasi yang tepat untuk pembuatan kompos. Tempat pengomposan sebaiknya terlindung dari sinar matahari langsung dan hujan berlebihan. Tempat yang teduh dan memiliki akses udara yang cukup akan memfasilitasi proses penguraian.
  4. Persiapan Tumpukan Kompos: Susun bahan organik secara lapisan atau campuran dalam bentuk tumpukan kompos. Usahakan untuk menyesuaikan rasio bahan “hijau” (sisa makanan, rumput, daun segar) dengan bahan “cokelat” (jerami, daun kering) dengan perbandingan sekitar 2:1 atau 3:1. Rasio ini membantu mencapai keseimbangan karbon dan nitrogen yang optimal untuk penguraian.
  5. Penambahan Air: Pastikan tumpukan kompos memiliki tingkat kelembaban yang tepat, yaitu sekitar 50-60%. Jika tumpukan terlalu kering, tambahkan air untuk menjaga kelembaban. Jika terlalu basah, tambahkan bahan cokelat atau gulingkan tumpukan untuk meningkatkan sirkulasi udara.
  6. Pembalikan Tumpukan: Setelah beberapa minggu, baliklah tumpukan kompos dengan mencampurkan bagian tengah dengan bagian luar. Pembalikan tumpukan membantu mempercepat proses penguraian dan meratakan kompos.
  7. Pemantauan dan Perawatan: Pantau suhu tumpukan kompos secara teratur. Proses pengomposan yang efektif akan meningkatkan suhu tumpukan menjadi panas. Suhu yang tinggi membantu membunuh patogen dan biji gulma yang tidak diinginkan. Pastikan juga kelembaban tetap optimal dan tambahkan air jika diperlukan.
  8. Penyimpanan dan Kematangan: Setelah proses pengomposan selesai, biarkan kompos matang selama beberapa minggu sebelum digunakan. Kompos yang matang akan berwarna gelap, bau yang tidak terlalu menyengat, dan tekstur yang seragam.
  9. Penggunaan Kompos: Gunakan kompos yang telah matang sebagai pupuk organik untuk tanaman Anda. Sebarkan kompos di sekitar tanaman atau campurkan ke dalam tanah untuk meningkatkan kesuburan dan struktur tanah.

Dengan mengikuti langkah-langkah di atas, Anda dapat mengolah kompos dengan baik dan menghasilkan pupuk organik yang kaya akan nutrisi serta mendukung pertumbuhan tanaman dengan lebih baik. Pengomposan yang tepat juga membantu mengurangi limbah organik dan memberikan dampak positif pada keberlanjutan lingkungan

Pupuk Organik Cair Kotoran Kambing Sebagai Sumber Alternatif Pupuk organik

Pupuk Organik Cair Kotoran Kambing sebagai sumber alternatif pupuk organik yang murah dan gampang didapat di sekitar kita

Penggunaan pupuk anorganik (kimia) hasilnya memang bagus tetapi hanya dalam jangka pendek-menengah saja. Kini, setelah 30 tahun berlalu, unsur hara dalam tanah-tanah yang digelontori pupuk anorganik secara tak terkendali pun makin menipis. Dampaknya, kesuburan tanah makin tergerus. Produktivitas pertanian dihitung berdasarkan hasil panen per luas tanah— juga makin merosot. Continue reading Pupuk Organik Cair Kotoran Kambing Sebagai Sumber Alternatif Pupuk organik

Mengenal Pupuk Organik, Sumber Nutrisi Bagi Tanaman

Pupuk Organik memiliki kandungan unsur hara yang jauh lebih kecil daripada pupuk buatan. Aplikasi pupuk organik juga lebih sulit karena pupuk ini dibutuhkan dalam jumlah yang lebih besar daripada pupuk kimia dan tenaga kerja yang diperlukan juga lebih banyak.

Namun, pupuk organik memiliki fungsi tersendiri yang belum tergantikan oleh pupuk buatan. Berikut ini adalah beberapa manfaat dari pupuk organik.

Pupuk organik adalah jenis pupuk yang berasal dari sumber-sumber alami, seperti tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme. Pupuk ini ik memiliki peran penting dalam pertanian dan kelestarian lingkungan karena dapat meningkatkan kesuburan tanah, mengurangi penggunaan pupuk kimia yang berbahaya, serta mendukung praktik pertanian berkelanjutan.

Di bawah ini, akan dijelaskan secara lengkap beberapa jenis pupuk organik dan manfaatnya dalam meningkatkan produktivitas pertanian secara alami.

  1. Kompos: Pupuk kompos merupakan pupuk organik yang dihasilkan dari proses pengomposan bahan-bahan organik, seperti sisa tanaman, limbah dapur, jerami, dan pupuk kandang. Proses pengomposan mengubah bahan-bahan organik menjadi humus, yang kaya akan nutrisi dan mikroorganisme bermanfaat. Pupuk kompos membantu meningkatkan kesuburan tanah, meningkatkan kapasitas menahan air, serta mengurangi erosi dan degradasi tanah.
  2. Pupuk Kandang: Pupuk kandang berasal dari limbah hewan, seperti kotoran ternak. Kotoran ini mengandung nutrisi penting, seperti nitrogen, fosfor, dan kalium, serta mengandung mikroorganisme yang bermanfaat bagi tanah. Penggunaan pupuk kandang dapat meningkatkan kesuburan tanah dan membantu meningkatkan pertumbuhan tanaman.
  3. Pupuk Hijau: Pupuk hijau adalah jenis pupuk organik yang berasal dari tanaman legum atau gulma tertentu. Tanaman ini ditanam dan kemudian dicacah atau digilas untuk ditanam kembali ke dalam tanah. Pupuk hijau membantu meningkatkan kadar nitrogen dalam tanah dan meningkatkan ketersediaan nutrisi bagi tanaman lain. Selain itu, tanaman hijau juga membantu menekan pertumbuhan gulma dan mengurangi erosi tanah.
  4. Pupuk Hayati: Pupuk hayati atau pupuk mikroba adalah pupuk yang mengandung mikroorganisme bermanfaat, seperti bakteri dan jamur. Mikroorganisme ini berperan dalam mengurai bahan organik menjadi nutrisi yang dapat diserap oleh tanaman. Pupuk hayati membantu meningkatkan keseimbangan mikroorganisme di dalam tanah, meningkatkan pertumbuhan akar, dan melindungi tanaman dari penyakit.
  5. Pupuk Guano: Pupuk guano berasal dari kotoran burung laut atau burung guano. Pupuk ini sangat kaya akan nutrisi, seperti nitrogen, fosfor, dan kalium. Guano memiliki kandungan nutrisi yang tinggi dan mudah diserap oleh tanaman, sehingga menjadi salah satu pupuk organik yang efektif dalam meningkatkan produktivitas pertanian.
  6. Bokashi: bokashi adalah jenis pupuk organik yang berasal dari Jepang. Pupuk ini dibuat dengan menggiling bahan organik dan mengolahnya dengan mikroorganisme yang menguntungkan. Proses fermentasi bokashi membantu mempercepat pengomposan dan meningkatkan kandungan nutrisi tanah.
  7. Rumput Laut: Pupuk organik yang berasal dari rumput laut kaya akan nutrisi, termasuk kalium, magnesium, dan mikronutrien lainnya. Selain meningkatkan kesuburan tanah, pupuk rumput laut juga membantu meningkatkan kemampuan tanah untuk menyerap dan menyimpan air.

Pemanfaatan pupuk organik dalam pertanian memiliki berbagai manfaat. Pertama, mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia yang dapat merusak lingkungan dan tanah dalam jangka panjang.

Kedua, penggunaannyak organik membantu meningkatkan kesuburan tanah, mengurangi erosi, dan mendukung praktik pertanian berkelanjutan. Ketiga, pupuk organik membantu mengembalikan keseimbangan mikroorganisme di dalam tanah, yang berperan penting dalam pertumbuhan tanaman. Terakhir, pupuk organik juga berkontribusi pada peningkatan kualitas produk pertanian, sehingga menguntungkan petani dalam hal pasar dan harga yang lebih baik.

 Dengan pemanfaatan pupuk organik, pertanian dapat dilakukan dengan lebih berwawasan lingkungan dan mendukung keberlanjutan sistem pertanian.

Mampu menyediakan unsur hara makro dan mikro. Meskipun dalam jumlah yang jauh lebih kecil, pupuk organik mampu memperbaiki granulasi tanah berpasir dan tanah yang padat sehingga dapat meningkatkan kualitas aerasi, memperbaiki drainase tanah, dan meningkatkan kemampuan tanah dalam menyimpan air.
Mengandung asam humat (humus). Humus pada pupuk organik mampu meningkatkan kapasitas tukar kation tanah. Penambahan pupuk organik pada tanah dapat meningkatkan aktivitas mikroorganisme dalam tanah. Pada tanah yang cenderung asam, penambahan pupuk organik dapat membantu meningkatkan pH tanah, sehingga pH tanah dapat cenderung stabil.

Selain itu penggunaan pupuk organik juga tidak menyebabkan polusi tanah dan air, sehinga lebih ramah terhadap lingkungan.

Jenis pupuk yang banyak dikenal dan populer adalah sebagai berikut:
1. Pupuk Kandang
Pupuk kandang adalah pupuk organik yang berasal dari kotoran ternak. Kualitas pupuk kandang sangat tergantung pada jenis ternak, kualitas pakan ternak, dan cara penampungan pupuk kandang. Pupuk kandang dari ayam atau unggas memiliki unsur hara yang lebih besar daripada jenis ternak lain. Hal ini disebabkan kotoran padat pada unggas tercampur dengan kotoran cairnya.

mengenal pupuk organik


Umumnya, kandungan unsur hara pada urine selalu lebih tinggi daripada kotoran padat.seperti kompos, sebelum digunakan, pupuk kandang perlu mengalami proses penguraian. Dengan demikian kualitas pupuk kandang juga turut ditentukan oleh C/N rasio.

Ciri-ciri pupuk kandang yang baik dapat dilihat secara fisik atau kimiawi. Ciri fisiknya yaitu berwarna cokelat kehitaman, cukup kering, tidak menggumpal, dan tidak berbau menyengat. Ciri kimiawinya adalah C/N rasio kecil (bahan pembentuknya sudah tidak terlihat) dan temperaturnya relatif stabil.

2. Kompos
Kompos adalah kasil pembusukan sisa-sisa tanaman yang disebabkan oleh aktivitas mikroorganisme pengurai. Kualitas kompos ditentukan oleh besarnya perbandingan antara jumlah karbon dan nitrogen (C/N ratio). Jika C/N rasio tinggi, berarti bahan penyusun kompos belum terurai secara sempurna.

Bahan kompos dengan C/N rasio tinggi akan terurai atau membusuk lebih lama dibanding dengan C/N rasio rendah. Kualitas kompos dianggap baik jika memiliki C/N rasio antara 12-15.
Kandungan unsur hara dalam kompos sangat bervariasi. Tergantung dari jenis bahan asal yang digunakan dan cara pembuatan kompos. Kandungan unsur hara kompos sebagai berikut.
– Nitrogen 0,1 – 0,6%
– Fosfor 0,1 – 0,4%
– Kalium 0,8 – 1,5%
– Kalsium 0,8 – 1,5%

Ciri fisik kompos yang baik adalah berwarna cokelat kehitaman, agak lembab, gembur dan bahan pembentuknya sudah tidak tampak lagi. Penggunaan dosis tertentu pada pupuk kompos lebih berorientasi untuk memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah daripada untuk menyediakan unsur hara. Kompos Berkualitas?? Baca Disini.

3. Mikroba Penyubur Tanah
Kemajuan ilmu mikrobiologi tanah berhasil memperbanyak mikroba tanah yang bermanfaat dan mengemasnya sebagai pupuk cair. Mikroba yang telah dikemas ini kemudian disemprotkan ke tanah hingga berkembang biak dan memberi dampak positif bagi kesuburan tanah.

Jenis bakteri dan jamur yang biasa digunakan diantaranya Rhizobium, Lactobacillus, Streptomyces, Micoriza, dan Aspergillus. Jenis dan fungsi mikroba sangat beragam, cara penggunaanpun berbeda-beda. Karena itu sebaiknya baca petunjuk pada label atau brosur dengan seksamasebelum menggunakannya.

Mikroba juga membutuhkan waktu untuk berkembang biak sehingga hasil aplikasi mikroba penyubur tanah tidak langsung terlihat pada tanaman. Jumlah mikroba yang telah disemprotkan pun sangat mungkin akan berkurang karena faktor cuaca.

Aplikasi mikroba sebaiknya dilaksanakan secara rutin setiap dua minggu sekali. Alat semprot yang digunakan sebaiknya bukan yang biasa dipakai untuk menyemprot pestisida, karena pestisida akan mematikan mikroba. Selain itu, tidak disarankan menyemprotkan pestisida terutama fungisida pada tanah yang telah di aplikasikan mikroba.

Cara Membuat Pupuk Cair dari Kotoran Kelinci

Sebelum kita dapat menggunakan kotoran dan urine kelinci sebagai pupuk, sebaiknya kita mengolahnya menjadi pupuk cair  terlebih dahulu. Adapun keuntungan penggunaan pupuk cair dari kotoran kelinci adalah lebih hemat dalam penggunaannya, serta lebih mudah diserap oleh akar tanaman, sehingga efeknya dapat terlihat lebih cepat.

Berikut akan diuraikan beberapa tahapan proses mengolah kotoran kelinci menjadi pupuk cair:Cara Membuat Pupuk Cair dari Kotoran Kelinci
Alat dan Bahan:
1. Ember plastik berukuran besar atau jolang
2. Bilahan bambu atau kayu sebagai pengaduk
3. Kotoran kelinci
4. Air bersih
5. Pupuk NPK (jika ada)
Cara Membuat:
• Siapkan ember atau jolang berukuran besar
• Masukkan kotoran kelinci sampai kurang lebih 60% bagian ember
• Tambahkan air bersih sampai terisi sebanyak 80% bagian ember (jangan terlalu penuh, sebab kotoran yang telah dicampur air akan merekah/mengembang)
• Tambahkan pupuk NPK sebanyak 2 sendok makan (jika ada)
• Aduk-aduk adonan tadi dengan menggunakan bilahan bambu/kayu sampai semuanya tercampur, kemudian tutup dan biarkan semalaman
• Keesokan harinya, buka kembali penutupnya, kemudian aduk-aduk kembali adonan dengan menggunakan bilahan bambu/kayu. Biasanya dalam waktu 2-3 hari adonan sudah mulai mengembang dan berbau. Jika adonan terlalu kental, tambahkan air sedikit demi sedikit, kemudian aduk kembali hingga tercampur rata, kemudian tutup kembali
• Lakukan pengadukan setiap hari selama 2-3 minggu, jika adonan sudah tercampur rata, serta bau busuk sudah berkurang, maka adonan sudah siap digunakan sebagai pupuk
Cara Penggunaan Pupuk:
1. Siapkan ember atau wadah kosong
2. Masukan adonan pupuk secukupnya, dan tambahkan air dengan perbandingan 1:3
3. Aduk-aduk hingga tercampur
4. Gunakan campuran tersebut untuk menyiram tanaman
Mengapa kotoran kelinci dianggap memiliki kualitas terbaik sebagai pupuk organik? Dari hasil penelitian ,jika dibandingkan dengan hewan pemakan rumput lainnya, air kencing kelinci memiliki kadar Nitorgen yang tinggi karena kebiasaannya yang tidak pernah minum air dan hanya mengkonsumsi hijauan saja. Sedangkan untuk tumbuh dan berkembang tanaman memerlukan Nitrogen yang cukup tinggi, sehingga pupuk organik kotoran kelinci mampu memenuhi kebutuhan tanaman.
Berdasarkan hasil riset Badan Penelitian Ternak (Balitnak) Bogor, pada 2005 telah di ketahui kandungan unsur hara makro dan mikro urine kelinci unsur N P K rata-rata (N) 2,72% , (P) 1,1%, dan (K) 0,5% dan kandungan ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan urine hewan yang lain seperti Sapi, Kambing , Domba, Kuda dan babi.

Tanaman Betadine (Jatropha mulitifida Linn) di Sentulfresh

tanaman betadine cover

Tanaman Betadine (Jatropha mulitifida Linn) di Sentulfresh – Sekilas timbul rasa penasaran mendengar kata “tanaman Betadine“. Apakah benar-benar tanaman ini menyembuhkan layaknya obat betadine, menyembuhkan luka?; Bagaimana sih bentuk dari tanaman ini dan apakah sulit untuk mengembang biakannya?

Bagaimana cara menghentikan darah yang keluar dari luka kecil dengan menggunakan tanaman betadine? berikut cara pengobatannya:
(1) Bersihkan luka dengan menggunakan air bersih, usahakan air panas
(2)  Ambil/petik daun betadine sampai ke ujung tangkainya.  Tidak berapa lama akan keluar cairan putih dari pangkal daun tersebut.
(3)  Tempelkan ke luka dengan segera, tahan selama beberapa waktu
(4)  Jika Luka belum sembuh, lakukan tahapan ke dua hingga tahapan ketiga. Continue reading Tanaman Betadine (Jatropha mulitifida Linn) di Sentulfresh