Tanaman Buah Naga atau Dragon Fruit, tanaman yang Indah dan Eksotik

Tanaman Buah naga

Tanaman Buah naga atau dragon fruit merupakan salah satu jenis tanaman buah yang memiliki daya tarik tersendiri. Buahnya sangat tepat disajikan dalam setiap acara sarapan maupun di sela-sela waktu.

Tanaman buah naga ini punya rasa yang khas berupa kombinasi antara rasa manis, asam, dan sedikit gurih menyegarkan. Selain itu, buahnya pun mengandung zat-zat berkhasiat sebagai obat. Oleh karena itu, bila tanaman ini dikembangkan lebih lanjut, maka tidak tertutup kemungkinan bahwa buah ini dapat diolah lebih lanjut menjadi suatu industri bahan pewarna alami.

Tanaman Buah naga semakin marak di beberapa kota besar di Indonesia. Jumlah permintaan untuk pasar lokal belum mampu dipenuhi oleh produksi di dalam negeri. Akibatnya, di beberapa supermarket di kota-kota besar dibanjiri buah naga dari mancanegara. Padahal, kondisi iklim Indonesia sangat mendukung pengembangan tanaman ini.

Tanaman Buah Naga Enak

Oleh karena itu, dalam artikel ini dijelaskan secara terperinci mengenai budi daya tanaman buah naga mulai dari pembudidayaan di kebun sampai pembudidayaan di pot dan di halaman.

Budi Daya Tanaman Buah Naga di Kebun
Pembudidayaan buah naga untuk tujuan bisnis dilakukan di kebun. Namun, sebelum kegiatan pembudidayaan ini dilakukan, perlu persiapan yang matang agar diperoleh hasil yang maksimal. Bahkan setelah bibit ditanam, tindakan perawatan pun harus dilakukan seefektif mungkin. Menurut Sinarta Hardjadinata (2010), langkah-langkah pembudidayaan buah naga tersebut sebagai berikut.
1. Pengolahan Tanah
Agar tanaman buah naga dapat tumbuh dengan baik, tanah harus diolah terlebih dahulu. Tanaman buah naga akan tumbuh baik di tanah yang gembur. Ini disebabkan perakaran tanaman ini tumbuh merayap di permukaan tanah. Bila tanahnya terlalu keras atau liat, akar tidak dapat berpegangan erat pada tanah.

Pengolahan tanah untuk buah naga tidak terlalu sulit. Namun, sebelum digemburkan terlebih dahulu tanahnya dibersihkan dari gulma dan rerumputan. Hal ini sangat dianjurkan untuk menghindari serangan hama dan penyakit. Setelah bersih, tanah digemburkan dengan cara dicangkul sedalam satu cangkulan, kemudian dibolak-balik. Tanah yang sudah digemburkan selanjutnya dibuat lubang-lubang tanam.

2. Sistem Pengairan
Untuk sistem pengairan pada lahan disesuaikan dengan kondisi lahan, sistem cara tanamnya, dan pengadaan sumber air yang ada di sekitar lahan. Bisa mengguanakan cara pengairan tradisional yaitu sistem leb dengan menggunakan parit sedalam 20 cm yang dibuat di sekitar barisan tanaman atau juga dapat menggunakan sistem pengairan pipa yang dibuat sedemikian rupa untuk mengalirkan air pada seluruh tanaman.

3. Penanaman
Setelah tanah diolah dan digemburkan, batang stek atau bibit buah naga yang sudah disiapkan dapat segera ditanam. Ada dua sistem penanaman buah naga, yaitu sistem tunggal dan sistem kelompok.
Penanaman buah naga sistem tunggal dilakukan dengan menggunakan satu tiang panjatan. Pada tiang panjatan tersebut ditanam tiga atau empat bibit buah naga. Pembuatan lubang tanah disesuaikan dengan ukuran panjang bibit. Bibit yang ditanam harus merapat pada tiang panjatan sedalam 5-7 cm. Setelah ditanam, bibit diikat kuat pada tiang panjatan menggunakan tali raffia atau mengguanakan kawat supaya bibit tidak roboh.

Penanaman buah naga sistem kelompok dilakukan dengan menggunakan dua atau lebih tiang panjatan. Tiang panjatan ini dibuat mirip dengan tiang untuk menjemur pakaian dengan panjang 4 m yang dapat menampung 20-26 tanaman buah naga. Jarak tanam antarbaris 30 cm dan antar tanaman dalam baris juga 30 cm. Bibit dirapatkan dan diikat pada tiang panjatan seperti penanaman buah naga sistem tunggal.

Budi Daya Buah Naga di Pot
Buah naga yang ditanam di pot dapat digunakan sebagai tanaman hias untuk memperindah halaman rumah sekaligus dapat dinikmati buahnya. Kelebihan penanaman buah naga di pot adalah bisa dipindahkan dan diatur letak tanamannya sesuai keinginan. Menurut Tim Karya Tani Mandiri (2010), langkah-langkah pembudidayaan buah naga di pot adalah sebagai berikut.
1. Penyediaan Pot
Pot yang digunakan dapat terbuat dari bahan semen, plastik, tanah liat atau drum bekas yang dipotong. Namun, pot dari bahan tanah liat adalah yang paling ideal karena tanaman buah naga membutuhkan perubahan suhu yang drastis dari siang ke malam dalam proses pembungaan. Ukuran pot yang digunakan semakin besar semakin baik, minimal berdiameter sekitar 40 cm.
 2. Penyediaan Tiang Panjatan
Tiang panjatan yang digunakan terbuat dari besi beton berdiameter 8-10 cm atau balok kayu yang kuat dan tahan lama karena usia buah naga yang bisa mencapai puluhan tahun. Tinggi tiang antara 150-200 cm disesuaikan dengan besar pot. Pada bagian bawah tiang diberi kaki-kaki penguat agar nantinya bisa kuat dan tidak mudah goyah. Untuk tiang dari besi beton, bagian yang terpendam dalam tanah bisa diberi aspal untuk menghindari karat. Untuk bagian atas tiang diberi piringan yang berbentuk seperti setir mobil yang berfungsi untuk menyangga cabang-cabang produksi yang banyak.
3. Penyediaan Media Tanam
Bahan-bahan media tanam yang digunakan adalah pasir, tanah, pupuk kandang, dan kompos dengan perbandingan 2 : 1 : 3 : 1. Dapat juga ditambahkan bubuk batu bata merah secukupnya dan dolomit sebanyak 100 g dicampur rata dengan bahan-bahan tersebut. Kemudian media tanam disiram dengan air hingga kondisi jenuh dan dibiarkan selama sehari semalam.
4. Penanaman Bibit
Bibit yang dipilih adalah bibit yang besar dari batang tua yang berwarna hijau tua keabuan dan bebas dari penyakit. Ukuran bibit minimal 30 cm. Bibit ditanam di sekitar tiang panjatan dengan kedalaman 10 cm. Setelah ditanam, media tanam ditekan-tekan agar bibit tidak mudah roboh. Selanjutnya media tanam disiram dengan air dan diletakkan di tempat terbuka yang tidak ternaungi sehingga terkena sinar matahari yang full.

Media Tanam Organik, Cocok Untuk hobbies Tanaman Organik

Media Tanam Organik – Di  lingkungan banyak sekali material yang dapat dimanfaatkan untuk membuat media tanam organik mulai dari yang alami hingga yang sintetis.

Namun untuk menjaga kualitas tanaman yang dihasilkan maka perlu adanya pemilihan media sebagai media tanam. Selain yang berkualitas perlu adanya upaya untuk menghasilkan tanaman yang aman dari bahan kimia (tanaman organik).

Tanaman organik dapat dihasilkan dari mulai awal penanaman, penggunaan media, dan pemeliharaan tanaman dari berbagai hama penyakit.

Kompos sebagai media tanam yang Baik

Pada kesempatan ini yang akan saya bahas lebih ke berbagai media tanam yang umumnya banyak digunakan, antara lain:
Tanah. Tanah yang baik untuk media tanam sebaiknya diambil dari lapisan bagian (top soil). Secara umum terdapat dua tipe tanah yaitu yang harus diperhatikan yakni tanah pasir dan tanah lempung.

Tanah yang berpasir memiliki kemampuan drainase yang baik, cepat mengalirkan air namun kelemahannya tanah tersebut buruk dalam menyimpan air sebagai cadangan. Sedangkan tanah lempung lebih sulit ditembus oleh air sehingga akan membuat air tergenang dalam media tanam. Tanah yang baik untuk media tanaman tidak terlalu berpasir dan tidak terlalu lempung, melainkan harus gembur.

Kompos. Kompos merupakan bahan organik yang berfungsi sebagai penyedia unsur hara bagi tanaman. Kompos yang digunakan untuk media tanam adalah kompos padat, silahkan baca jenis dan karakteristik pupuk kompos. Hampir semua jenis kompos padat bisa digunakan sebagai bahan baku media tanam.

Penambahan bahan-bahan organik seperti kompos atau humus pada media tanam bisa memperbaiki struktur fisik tanah dan meningkatkan kapasitas tukar kation. Kompos yang ditambahkan sebaiknya berupa kompos yang telah matang. Kompos yang belum matang berpotensi mendatangkan hama dan penyakit. Selain itu unsur haranya sulit diserap tanaman karena belum terurai secara penuh.

Selain kompos, bisa juga memanfaatkan humus yang didapatkan dari hutan. Tanah humus memiliki kandungan unsur hara yang tinggi. Bila lokasi anda dekat dengan hutan, tanah humus bisa dicari dengan mudah. Tempat-tempat terbaik adalah disekitar tanaman pakis-pakisan.

Unsur bahan organik lain juga bisa digunakan sebagai pengganti kompos atau humus seperti pupuk kandang atau pupuk hijau. Hanya saja perlu digarisbawahi, sebaiknya gunakan pupuk kandang atau hijau yang telah matang benar dan teksturnya sudah berbentuk granul seperti tanah. Penggunaan pupuk kandang yang belum matang beresiko membawa hama dan panyakit pada tanaman.

Arang sekam atau sabut kelapa. Arang sekam merupakan hasil pembakaran tak sempurna dari sekam padi. Arang sekam berguna untuk meningkatkan kapasitas porositas tanah. Penambahan arang sekam pada media tanam akan memperbaiki struktur media tanam karena mempunyai partikel-partikel yang berpengaruh pada pergerakan air, udara dan menjaga kelembaban.

Manfaat arang sekam adalah bisa menetralisir keasaman tanah, menetralisir racun, meningkatkan daya ikat tanah terhadap air, merangsang pertumbuhan mikroba yang menguntungkan bagi tanaman, menjadikan tanah gembur sehingga memperbaiki drainase dan aerasi tanah. Arang sekam lebih baik dibanding sekam padi, karena arang sekam sudah mengalami pembakaran yang bisa menghilangkan bibit penyakit atau hama yang mungkin saja terikut.

Selain arang sekam, bisa juga digunakan sisa-sisa sabut kelapa (coco peat). Sabut kelapa mempunyai sifat seperti arang sekam. Media tanam sabut kelapa cocok digunakan di daerah yang kering dengan curah hujan rendah. Sabut diambil dari bagian kulit kelapa yang sudah tua.

Demikian yang dapat saya informasikan, terimakasih telah menyempatkan waktunya untuk membaca artikel ini. Semoga dapat bermanfaat.

Kompos sebagai Media Tanam yang Baik

Kompos sebagai media tanam yang Baik – Media tanam merupakan faktor penting yang sangat menentukan dalam kegiatan bercocok tanam. Media tanam akan menentukan baik atau tidaknya pertumbuhan tanaman yang pada akhirnya mempengaruhi hasil produksi.

Jenis-jenis media tanam sangat banyak dan beragam seiring dengan berkembangnya teknologi sehingga berbagai metode bercocok tanam mulai bermunculan.

Kompos sebagai media tanam yang Baik

Kebutuhan masing-masing tanaman akan sifat dan karakteristik media tanam tidaklah sama. Tanaman buah membutuhkan karakteristik media tanam yang berbeda dengan tanaman sayuran, karena tanaman buah memerlukan media tanam yang solid agar bisa menopang pertumbuhan tanaman yang relatif lebih besar, sedangkan jenis tanaman sayuran daun lebih memerlukan media tanam yang gembur dan mudah ditembus akar.

Dari hal ini saja sudah jelas sekali bahwa kebutuhan tanaman akan karakteristik dan sifat media yang dibutuhkan berbeda-beda.

Secara umum, kompos sebagai media tanam memiliki fungsi untuk menopang tanaman, memberikan nutrisi dan menyediakan tempat bagi akar tanaman untuk tumbuh dan berkembang. Lewat media tanam tumbuh-tumbuhan mendapatkan sebagian besar nutrisinya. Untuk budidaya tanaman dalam wadah pot atau polybag, media tanam dibuat sebagai pengganti tanah.

Oleh karena itu, media yang digunakan harus bisa menggantikan fungsi tanah bagi tanaman. Media tanam yang baik harus memiliki sifat-sifat fisik, kimia dan biologi yang sesuai dengan kebutuhan tanaman.

Kompos sebagai Media tanam yang baik harus memiliki syarat-syarat sebagai berikut:
Mampu menyediakan ruang tumbuh bagi akar tanaman, sekaligus juga sanggup menopang tanaman. Artinya, media tanam harus gembur sehingga akar tanaman bisa tumbuh baik dan sempurna, akan tetapi masih cukup solid memegang akar dan menopang batang agar tidak roboh. Apabila media terlalu gembur, pertumbuhan akar akan leluasa namun tanaman akan terlalu mudah tercerabut. Sebaliknya apabila terlalu padat, akar akan kesulitan untuk tumbuh.

Memiliki porositas yang baik, artinya bisa menyimpan air sekaligus juga mempunyai drainase (kemampuan mengalirkan air) dan aerasi (kemampuan mengalirkan oksigen) yang baik. Media tanam harus bisa mempertahankan kelembaban tanah namun harus bisa membuang kelebihan air. Media tanam yang porous mempunyai rongga kosong antar materialnya.

Media tersebut tersebut bisa ditembus air, sehingga air tidak tergenang dalam pot atau polybag. Namun disisi lain ronga-rongga tersebut harus bisa menyerap air (higroskopis) untuk disimpan sebagai cadangan dan mempertahankan kelembaban.

Menyediakan unsur hara yang cukup baik makro maupun mikro. Unsur hara sangat penting bagi pertumbuhan tanaman. Unsur hara ini bisa disediakan dari pupuk atau aktivitas mikroorganisme yang terdapat dalam media tanam. Media yang baik tidak mengandung bibit penyakit, media tanam harus bersih dari hama dan penyakit.

Hama dan penyakit yang terkandung dalam media tanam dapat menyerang tanaman dan menyebabkan kematian pada tanaman. Media tanam tidak harus steril karena banyak mikrooganisme tanah yang sebenarnya sangat bermanfaat bagi tanaman, namun harus higienis dari bibit penyakit.

Salah satu media yang baik untuk digunakan sebagai bahan dasar media adalah kompos sebagai media tanam. Kompos sebagai media tanam yang baik karena selain dapat menggantikan fungsi tanam, juga dapat dijadikan sebagai sumber nutrisi dan sebagai tempat bertopangnya akar tanaman sehingga dapat tumbuh subur. Selain itu kompos juga menyediakan unsur hara yang cukup yang keberadaannya sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman.

Kompos juga memiliki porositas yang baik, dalam artian dapat mengikat dan menyimpan air dan apabila kandungan air terlalu banyak maka air tersebut akan terlewatkan, sehingga kebutuhan tanaman akan air dapat tetap terjaga. namun lebih baiknya pembuatan media tidak hanya penggunaan komps saja, namun juga perlu adanya tambahan tanah sebagai penguat dan penopang akar tanaman.

Jenis Kompos Sebagai Media Tanam Yang Baik

Di Indonesia, terdapat berbagai jenis kompos yang dapat digunakan sebagai pupuk organik untuk meningkatkan kesuburan tanah dan produktivitas pertanian. Berikut adalah beberapa jenis kompos yang umum di Indonesia:

  1. Kompos Sampah Organik: Kompos ini dihasilkan dari pengomposan bahan-bahan organik dari sampah rumah tangga, seperti sisa makanan, kulit buah, sayuran, dan daun. Proses pengomposan mengubah bahan organik ini menjadi humus yang kaya akan nutrisi. Kompos sampah organik dapat dihasilkan melalui metode pengomposan sederhana di rumah atau melalui pengomposan skala besar di fasilitas daur ulang.
  2. Kompos Jerami: Kompos jerami dibuat dari pengomposan jerami atau sisa tanaman hasil panen. Jerami merupakan bahan organik yang kaya akan karbon dan mengandung sedikit nutrisi. Dengan pengomposan yang tepat, jerami dapat diubah menjadi kompos yang lebih kaya nutrisi dan bermanfaat untuk meningkatkan kesuburan tanah.
  3. Kompos Kotoran Ternak: Kompos ini berasal dari pengomposan kotoran ternak, seperti kotoran sapi, kambing, ayam, dan lain-lain. Kotoran ternak mengandung nutrisi penting seperti nitrogen, fosfor, dan kalium. Proses pengomposan membantu mengurai kotoran ternak menjadi bentuk yang lebih stabil dan bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman.
  4. Kompos Sisa Pertanian: Kompos dari sisa pertanian termasuk sisa-sisa tanaman yang tidak digunakan setelah panen, seperti tangkai, batang, dan daun yang tidak layu. Pengomposan sisa pertanian ini membantu mengembalikan nutrisi ke dalam tanah dan mengurangi pembakaran sampah pertanian yang dapat menyebabkan pencemaran udara.
  5. Kompos Limbah Organik Industri: Beberapa industri, seperti industri makanan dan minuman, menghasilkan limbah organik seperti ampas atau sisa-sisa produksi. Limbah ini dapat diolah menjadi kompos melalui pengomposan yang tepat. Pengolahan limbah organik industri menjadi kompos membantu mengurangi dampak negatif pada lingkungan dan dapat digunakan kembali sebagai pupuk organik.
  6. Kompos Rumput Laut: Di daerah pesisir, kompos juga bisa dihasilkan dari rumput laut. Rumput laut mengandung berbagai nutrisi dan mikroorganisme yang bermanfaat bagi tanah. Pengomposan rumput laut dapat membantu meningkatkan kesuburan tanah di daerah pesisir yang sering mengalami kekurangan unsur hara.
  7. Kompos Bokashi: Bokashi adalah metode pengomposan yang menggunakan mikroorganisme pengurai yang telah diaktivasi. Bahan organik, seperti sisa makanan, dicampur dengan mikroorganisme bokashi dan fermentasi terjadi dalam wadah tertutup. Kompos bokashi sangat baik untuk pemupukan dan juga mengurangi bau busuk selama proses pengomposan.

Penggunaan kompos sebagai pupuk organik memiliki berbagai manfaat, termasuk meningkatkan kesuburan tanah, meningkatkan kapasitas menahan air, meningkatkan pertumbuhan akar tanaman, dan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia berbahaya. Penerapan pengomposan juga mendukung praktik pertanian berkelanjutan dan membantu mengurangi limbah organik yang berakhir di tempat pembuangan sampah. Dalam menghasilkan kompos, penting untuk memperhatikan proses pengomposan yang benar, seperti memperhatikan rasio karbon dan nitrogen serta menjaga kelembaban dan sirkulasi udara agar penguraian bahan organik berjalan dengan efisien.

Pengolahan Kompos

Pengolahan kompos yang baik memerlukan perhatian pada beberapa faktor penting untuk memastikan proses pengomposan berjalan dengan efisien dan menghasilkan kompos berkualitas tinggi. Berikut adalah langkah-langkah cara pengolahan kompos yang baik:

  1. Pemilihan Bahan Organik yang Tepat: Pilih bahan organik yang sesuai untuk proses pengomposan. Bahan-bahan seperti sisa makanan, jerami, daun, rumput, kotoran ternak, dan limbah pertanian merupakan bahan-bahan yang umum digunakan. Pastikan bahan organik yang dipilih bersih dari bahan-bahan non-organik seperti plastik atau logam.
  2. Penggilingan atau Pencacahan (Opsional): Untuk mempercepat proses pengomposan dan meningkatkan permukaan kontak, bahan organik besar bisa digiling atau dicacah menjadi ukuran yang lebih kecil.
  3. Pemilihan Tempat Pengomposan: Pilih lokasi yang tepat untuk pembuatan kompos. Tempat pengomposan sebaiknya terlindung dari sinar matahari langsung dan hujan berlebihan. Tempat yang teduh dan memiliki akses udara yang cukup akan memfasilitasi proses penguraian.
  4. Persiapan Tumpukan Kompos: Susun bahan organik secara lapisan atau campuran dalam bentuk tumpukan kompos. Usahakan untuk menyesuaikan rasio bahan “hijau” (sisa makanan, rumput, daun segar) dengan bahan “cokelat” (jerami, daun kering) dengan perbandingan sekitar 2:1 atau 3:1. Rasio ini membantu mencapai keseimbangan karbon dan nitrogen yang optimal untuk penguraian.
  5. Penambahan Air: Pastikan tumpukan kompos memiliki tingkat kelembaban yang tepat, yaitu sekitar 50-60%. Jika tumpukan terlalu kering, tambahkan air untuk menjaga kelembaban. Jika terlalu basah, tambahkan bahan cokelat atau gulingkan tumpukan untuk meningkatkan sirkulasi udara.
  6. Pembalikan Tumpukan: Setelah beberapa minggu, baliklah tumpukan kompos dengan mencampurkan bagian tengah dengan bagian luar. Pembalikan tumpukan membantu mempercepat proses penguraian dan meratakan kompos.
  7. Pemantauan dan Perawatan: Pantau suhu tumpukan kompos secara teratur. Proses pengomposan yang efektif akan meningkatkan suhu tumpukan menjadi panas. Suhu yang tinggi membantu membunuh patogen dan biji gulma yang tidak diinginkan. Pastikan juga kelembaban tetap optimal dan tambahkan air jika diperlukan.
  8. Penyimpanan dan Kematangan: Setelah proses pengomposan selesai, biarkan kompos matang selama beberapa minggu sebelum digunakan. Kompos yang matang akan berwarna gelap, bau yang tidak terlalu menyengat, dan tekstur yang seragam.
  9. Penggunaan Kompos: Gunakan kompos yang telah matang sebagai pupuk organik untuk tanaman Anda. Sebarkan kompos di sekitar tanaman atau campurkan ke dalam tanah untuk meningkatkan kesuburan dan struktur tanah.

Dengan mengikuti langkah-langkah di atas, Anda dapat mengolah kompos dengan baik dan menghasilkan pupuk organik yang kaya akan nutrisi serta mendukung pertumbuhan tanaman dengan lebih baik. Pengomposan yang tepat juga membantu mengurangi limbah organik dan memberikan dampak positif pada keberlanjutan lingkungan

Mengenal Pupuk Organik, Sumber Nutrisi Bagi Tanaman

Pupuk Organik memiliki kandungan unsur hara yang jauh lebih kecil daripada pupuk buatan. Aplikasi pupuk organik juga lebih sulit karena pupuk ini dibutuhkan dalam jumlah yang lebih besar daripada pupuk kimia dan tenaga kerja yang diperlukan juga lebih banyak.

Namun, pupuk organik memiliki fungsi tersendiri yang belum tergantikan oleh pupuk buatan. Berikut ini adalah beberapa manfaat dari pupuk organik.

Pupuk organik adalah jenis pupuk yang berasal dari sumber-sumber alami, seperti tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme. Pupuk ini ik memiliki peran penting dalam pertanian dan kelestarian lingkungan karena dapat meningkatkan kesuburan tanah, mengurangi penggunaan pupuk kimia yang berbahaya, serta mendukung praktik pertanian berkelanjutan.

Di bawah ini, akan dijelaskan secara lengkap beberapa jenis pupuk organik dan manfaatnya dalam meningkatkan produktivitas pertanian secara alami.

  1. Kompos: Pupuk kompos merupakan pupuk organik yang dihasilkan dari proses pengomposan bahan-bahan organik, seperti sisa tanaman, limbah dapur, jerami, dan pupuk kandang. Proses pengomposan mengubah bahan-bahan organik menjadi humus, yang kaya akan nutrisi dan mikroorganisme bermanfaat. Pupuk kompos membantu meningkatkan kesuburan tanah, meningkatkan kapasitas menahan air, serta mengurangi erosi dan degradasi tanah.
  2. Pupuk Kandang: Pupuk kandang berasal dari limbah hewan, seperti kotoran ternak. Kotoran ini mengandung nutrisi penting, seperti nitrogen, fosfor, dan kalium, serta mengandung mikroorganisme yang bermanfaat bagi tanah. Penggunaan pupuk kandang dapat meningkatkan kesuburan tanah dan membantu meningkatkan pertumbuhan tanaman.
  3. Pupuk Hijau: Pupuk hijau adalah jenis pupuk organik yang berasal dari tanaman legum atau gulma tertentu. Tanaman ini ditanam dan kemudian dicacah atau digilas untuk ditanam kembali ke dalam tanah. Pupuk hijau membantu meningkatkan kadar nitrogen dalam tanah dan meningkatkan ketersediaan nutrisi bagi tanaman lain. Selain itu, tanaman hijau juga membantu menekan pertumbuhan gulma dan mengurangi erosi tanah.
  4. Pupuk Hayati: Pupuk hayati atau pupuk mikroba adalah pupuk yang mengandung mikroorganisme bermanfaat, seperti bakteri dan jamur. Mikroorganisme ini berperan dalam mengurai bahan organik menjadi nutrisi yang dapat diserap oleh tanaman. Pupuk hayati membantu meningkatkan keseimbangan mikroorganisme di dalam tanah, meningkatkan pertumbuhan akar, dan melindungi tanaman dari penyakit.
  5. Pupuk Guano: Pupuk guano berasal dari kotoran burung laut atau burung guano. Pupuk ini sangat kaya akan nutrisi, seperti nitrogen, fosfor, dan kalium. Guano memiliki kandungan nutrisi yang tinggi dan mudah diserap oleh tanaman, sehingga menjadi salah satu pupuk organik yang efektif dalam meningkatkan produktivitas pertanian.
  6. Bokashi: bokashi adalah jenis pupuk organik yang berasal dari Jepang. Pupuk ini dibuat dengan menggiling bahan organik dan mengolahnya dengan mikroorganisme yang menguntungkan. Proses fermentasi bokashi membantu mempercepat pengomposan dan meningkatkan kandungan nutrisi tanah.
  7. Rumput Laut: Pupuk organik yang berasal dari rumput laut kaya akan nutrisi, termasuk kalium, magnesium, dan mikronutrien lainnya. Selain meningkatkan kesuburan tanah, pupuk rumput laut juga membantu meningkatkan kemampuan tanah untuk menyerap dan menyimpan air.

Pemanfaatan pupuk organik dalam pertanian memiliki berbagai manfaat. Pertama, mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia yang dapat merusak lingkungan dan tanah dalam jangka panjang.

Kedua, penggunaannyak organik membantu meningkatkan kesuburan tanah, mengurangi erosi, dan mendukung praktik pertanian berkelanjutan. Ketiga, pupuk organik membantu mengembalikan keseimbangan mikroorganisme di dalam tanah, yang berperan penting dalam pertumbuhan tanaman. Terakhir, pupuk organik juga berkontribusi pada peningkatan kualitas produk pertanian, sehingga menguntungkan petani dalam hal pasar dan harga yang lebih baik.

 Dengan pemanfaatan pupuk organik, pertanian dapat dilakukan dengan lebih berwawasan lingkungan dan mendukung keberlanjutan sistem pertanian.

Mampu menyediakan unsur hara makro dan mikro. Meskipun dalam jumlah yang jauh lebih kecil, pupuk organik mampu memperbaiki granulasi tanah berpasir dan tanah yang padat sehingga dapat meningkatkan kualitas aerasi, memperbaiki drainase tanah, dan meningkatkan kemampuan tanah dalam menyimpan air.
Mengandung asam humat (humus). Humus pada pupuk organik mampu meningkatkan kapasitas tukar kation tanah. Penambahan pupuk organik pada tanah dapat meningkatkan aktivitas mikroorganisme dalam tanah. Pada tanah yang cenderung asam, penambahan pupuk organik dapat membantu meningkatkan pH tanah, sehingga pH tanah dapat cenderung stabil.

Selain itu penggunaan pupuk organik juga tidak menyebabkan polusi tanah dan air, sehinga lebih ramah terhadap lingkungan.

Jenis pupuk yang banyak dikenal dan populer adalah sebagai berikut:
1. Pupuk Kandang
Pupuk kandang adalah pupuk organik yang berasal dari kotoran ternak. Kualitas pupuk kandang sangat tergantung pada jenis ternak, kualitas pakan ternak, dan cara penampungan pupuk kandang. Pupuk kandang dari ayam atau unggas memiliki unsur hara yang lebih besar daripada jenis ternak lain. Hal ini disebabkan kotoran padat pada unggas tercampur dengan kotoran cairnya.

mengenal pupuk organik


Umumnya, kandungan unsur hara pada urine selalu lebih tinggi daripada kotoran padat.seperti kompos, sebelum digunakan, pupuk kandang perlu mengalami proses penguraian. Dengan demikian kualitas pupuk kandang juga turut ditentukan oleh C/N rasio.

Ciri-ciri pupuk kandang yang baik dapat dilihat secara fisik atau kimiawi. Ciri fisiknya yaitu berwarna cokelat kehitaman, cukup kering, tidak menggumpal, dan tidak berbau menyengat. Ciri kimiawinya adalah C/N rasio kecil (bahan pembentuknya sudah tidak terlihat) dan temperaturnya relatif stabil.

2. Kompos
Kompos adalah kasil pembusukan sisa-sisa tanaman yang disebabkan oleh aktivitas mikroorganisme pengurai. Kualitas kompos ditentukan oleh besarnya perbandingan antara jumlah karbon dan nitrogen (C/N ratio). Jika C/N rasio tinggi, berarti bahan penyusun kompos belum terurai secara sempurna.

Bahan kompos dengan C/N rasio tinggi akan terurai atau membusuk lebih lama dibanding dengan C/N rasio rendah. Kualitas kompos dianggap baik jika memiliki C/N rasio antara 12-15.
Kandungan unsur hara dalam kompos sangat bervariasi. Tergantung dari jenis bahan asal yang digunakan dan cara pembuatan kompos. Kandungan unsur hara kompos sebagai berikut.
– Nitrogen 0,1 – 0,6%
– Fosfor 0,1 – 0,4%
– Kalium 0,8 – 1,5%
– Kalsium 0,8 – 1,5%

Ciri fisik kompos yang baik adalah berwarna cokelat kehitaman, agak lembab, gembur dan bahan pembentuknya sudah tidak tampak lagi. Penggunaan dosis tertentu pada pupuk kompos lebih berorientasi untuk memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah daripada untuk menyediakan unsur hara. Kompos Berkualitas?? Baca Disini.

3. Mikroba Penyubur Tanah
Kemajuan ilmu mikrobiologi tanah berhasil memperbanyak mikroba tanah yang bermanfaat dan mengemasnya sebagai pupuk cair. Mikroba yang telah dikemas ini kemudian disemprotkan ke tanah hingga berkembang biak dan memberi dampak positif bagi kesuburan tanah.

Jenis bakteri dan jamur yang biasa digunakan diantaranya Rhizobium, Lactobacillus, Streptomyces, Micoriza, dan Aspergillus. Jenis dan fungsi mikroba sangat beragam, cara penggunaanpun berbeda-beda. Karena itu sebaiknya baca petunjuk pada label atau brosur dengan seksamasebelum menggunakannya.

Mikroba juga membutuhkan waktu untuk berkembang biak sehingga hasil aplikasi mikroba penyubur tanah tidak langsung terlihat pada tanaman. Jumlah mikroba yang telah disemprotkan pun sangat mungkin akan berkurang karena faktor cuaca.

Aplikasi mikroba sebaiknya dilaksanakan secara rutin setiap dua minggu sekali. Alat semprot yang digunakan sebaiknya bukan yang biasa dipakai untuk menyemprot pestisida, karena pestisida akan mematikan mikroba. Selain itu, tidak disarankan menyemprotkan pestisida terutama fungisida pada tanah yang telah di aplikasikan mikroba.

Tanaman Betadine (Jatropha mulitifida Linn) di Sentulfresh

tanaman betadine cover

Tanaman Betadine (Jatropha mulitifida Linn) di Sentulfresh – Sekilas timbul rasa penasaran mendengar kata “tanaman Betadine“. Apakah benar-benar tanaman ini menyembuhkan layaknya obat betadine, menyembuhkan luka?; Bagaimana sih bentuk dari tanaman ini dan apakah sulit untuk mengembang biakannya?

Bagaimana cara menghentikan darah yang keluar dari luka kecil dengan menggunakan tanaman betadine? berikut cara pengobatannya:
(1) Bersihkan luka dengan menggunakan air bersih, usahakan air panas
(2)  Ambil/petik daun betadine sampai ke ujung tangkainya.  Tidak berapa lama akan keluar cairan putih dari pangkal daun tersebut.
(3)  Tempelkan ke luka dengan segera, tahan selama beberapa waktu
(4)  Jika Luka belum sembuh, lakukan tahapan ke dua hingga tahapan ketiga. Continue reading Tanaman Betadine (Jatropha mulitifida Linn) di Sentulfresh